Wahai Kaum Muda, Mari Menulis Politik!


Peserta workshop blogger dan aktivis media sosial yang diadakan ACSTF (Dok. ACSTF)

Tahun ini kita sibukkan dengan sebuah hajatan besar. Ya, Pemilihan Umum (Pemilu) itu telah berakhir beberapa waktu lalu. Sebuah pesta demokrasi lima tahun sekali yang menjadi sarana kita menyaring para Wakil Rakyat dan Presiden sebagai aktor utama yang menjalankan roda pemerintahan negeri ini.

Pada prosesnya pelaksanaan Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) belum seperti yang sama-sama kita impikan, tapi paling tidak kita telah sukses menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar nan demokratis.

Entah apa jadinya negeri ini jika Pemilu tak terselenggara. Dengan cara apa kita memilih para wakil dan pemimpin negeri tercinta ini. Apakah kita akan berubah menjadi sebuah negara Monarki layaknya Saudi Arabia atau Britania Raya yang segalanya diatur dan ditentukan oleh kerajaan. Lalu di mana letak kedaulatan rakyat?
Baca selengkapnya »

Ada Kemesraan Aceh dan Papua di Askopma Unsyiah


Askopma Unsyiah (foto: www.up4b.go.id)

Tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahunan sedang berjalan dengan ayunan langkah kaki yang agak dipercepat. Parawakannya begitu asing, tampak berbeda dengan pemuda-pemuda di sekitarnya. Dengan tas ransel warna hitam Ia menuju sebuah tempat sambil sesekali melempar senyum hangat khasnya.

Yopie, begitulah pemuda itu biasa disapa. Laki-laki kelahiran Timika, Papua ini adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh. Ia kini sudah memasuki semester ke empat berkuliah di kampus jantung hati rakyat Aceh itu. Selama menetap di Aceh, Yopie tinggal di kompleks Asrama Putra milik kampus Unsyiah.

Orangnya ramah dan bersahaja, tak lupa Ia menyapa kala saya bertemu dengannya sore itu. Kami pun larut dengan obrolan-obrolan santai bak dua sekawan yang telah kenal lama. Yopie pun mulai bercerita tentang kesannya selama menetap di tanah Serambi Mekkah.
Baca selengkapnya »

Selecao Pasti Memukau



Tim Samba Brasil (foto: neanderthalnews.com)


"Hanya ada satu kandidat terkuat juara -- Brasil. Mereka adalah sebuah tim kuat dan ada energi yang sangat besar di negara itu. Ada kekuatan luar biasa yang ada di dalam negara ini," (Joachim Loew – Pelatih timnas Jerman)


Brasil. Ya, dalam hal sepak bola siapa yang meragukan negara satu ini. Orang-orang mungkin akan berpikir seribu kali untuk tidak menaruh nama Selecao ke dalam daftar favorit juara. Pengoleksi mahkota Piala Dunia (PD) terbanyak ini punya segalanya untuk meraih bintang keenamnya. 

PD Brasil 2014 hanya tinggal hitungan hari. Negara-negara partisipan semakin berbenah mempersiapkan diri agar tampil maksimal. Bila kita coba menganalisis siapa calon kuat juara ajang sepak bola terbesar sejagad kali ini, maka akan mengerucut beberapa nama. Sebut aja tuan rumah Brasil, juara bertahan Spanyol, lalu ada nama Argentina, Jerman dan Italia.
Baca selengkapnya »

“Eumpang Breuh”, Film Komedi Aceh di Tonton Orang NTT

foto: http://acehdalamsejarah.blogspot.com


Orang bilang cinta itu datang dari mata turun ke hati. Mungkin benar adanya, hanya lewat pandangan pertama, Joni Kapluk (Abdul Hadi) langsung menaruh hati kepada Yusniar (Nurhasyidah) si kembang desa. Bak gayung bersambut, Yusniar pun seakan terhipnotis cintanya Joni. Singkat cerita, mereka pun mengikat tali cinta sehidup semati.

Akan tetapi kisah cinta mereka tak berjalan mulus. Hubungan Joni dan Yusniar mendapat tantangan keras dari Ayah Yusniar, Haji Uma (Umar Pradana). Joni yang sehari-hari berprofesi sebagai preman kampung dianggap orang yang tidak berpendidikan, tak pantas untuk Yusniar yang lembut, sopan dan penuh tata krama.

Tapi bukan Joni namanya jika menyerah begitu saja. Joni pun berusaha sekuat tenaga mempertahankan ikatan cintanya, walaupun terkadang nyawa sebagai taruhannya. Untunglah Joni punya sahabat seperti Mando Gapi (Sulaiman). yang mau setia membantu dan menemani Joni memperjuangkan hubungan cintanya dengan Yusniar.
Baca selengkapnya »

Perkembangan Pesepakbola Muda, Siapa Yang Tahu?



Ilustrasi (foto: goal.com)

Pernah dengar pesepakbola bernama Dominic Adiyiah? Jika anda seorang milanisti pasti tak begitu asing dengan pemain satu ini. Ya, pemain Internasional Ghana ini pernah berseragam AC Milan periode 2010-2012. Digadang-gadang sebagai talenta muda yang akan bersinar di Eropa, Adiyiah malah banyak menghabiskan karier profesionalnya di klub-klub semenjana.

Nama pemain berposisi penyerang ini pernah menjadi buah bibir pada perhelatan Piala Dunia U-20 Mesir tahun 2009 lalu. Bagaimana tidak, Ghana dibawanya menjadi juara setelah mementaskan perlawanan Brasil di final. Berkat penampilan gemilangnya Adiyiah dinobatkan sebagai pemain terbaik. Bukan hanya itu, koleksi delapan golnya juga menetapkannya sebagai top skor kejuaraan dua tahunan itu.


Sinar terang bakat pria kelahiran 29 November 1989 ini membuat raksasa Italia, AC Milan kepincut dan memboyongnya dari klub Norwegia, Fredrikstad FK pada Januari 2010. Datang dengan ekspektasi besar dari publik merah-hitam, Ia diyakini akan menjadi pemain masa depan Milan kala itu.
Baca selengkapnya »

Meriahnya Tradisi Maulid di Aceh



Masyarakat makan bersama di hari maulid (foto: tribunnews.com)

Bagi umat muslim memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW disetiap tahunnya sudah menjadi sebuah tradisi penting. Maulid pada umumnya merupakan ekspresi rasa cinta umat Islam kepada Rasulnya.

Beragam cara dilakukan umat Islam di seluruh dunia untuk memperingati hari kelahiran Nabi akhir zaman itu. Khusus di Indonesia, peringatan maulid biasanya diisi dengan acara-acara keagamaan seperti ceramah, menyantuni anak yatim, zikir dan doa bersama.

Provinsi paling ujung barat Indonesia,  juga larut akan peringatan hari besar agama Islam itu. Mahsyur sebagai daerah yang lekat dengan nuansa keislaman, di mana Islam telah menyatu dengan budaya jutaan masyarakatnya. Merayakan Maulid adalah sebuah tradisi yang sudah turun temurun bagi orang Aceh.
Baca selengkapnya »

26 Januari



Dok. Pribadi

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali,” 
( Soekarno)

***

26 Januari 2009, aku masih hafal betul tanggal itu. Ya, ku yakin kau juga sama. Di tanggal itulah kali pertama kita mengikat tali cinta. Kala itu kau dan aku hanya sepasang remaja yang belum paham apa itu makna cinta. Semua mengalir begitu saja, hingga sekarang kita sadar bahwa kita adalah dua makhluk yang tak ingin berpisah.

Pada awalnya aku tak yakin 26Januari menjadi tanggal yang begitu berarti. Tak ada yang percaya kita akan terus bersama merayakan tanggal itu tiap tahunnya, bahkan oleh kita sendiri.
Baca selengkapnya »

Gading, Mahar Kawin Orang Lamaholot



Sumber foto: lamalerakoteklema.blogspot.com
“Pa Guru, kalau mau cari istri orang sini mudah saja, di Sumatera pasti banyak gajah ko?” Saya bisa tertawa geli sendiri jika ingat-ingat candaan dari seorang teman tadi. Tapi yang dikatakanntya itu memang fakta, bukan candaan. Aturan ini berlaku dalam adat etnis Lamaholot, bila anda ingin menikahi seorang gadis dari suku Lamaholot, mahar atau mas kawinnya berupa gading gajah.

Etnis Lamaholot dikenal sebagai etnis yang sangat kental akan adat dan budayanya. Etnis ini mendiami Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata dan Pulau Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Etnis ini sangat menjunjung tinggi kearifan lokal, jangan heran masih banyak prosesi atau ritual adat yang masih dilakukan hingga kini, termasuk persoalan pernikahan.

Saya pernah berkesempatan menginjakkan kaki di tanah Lembata, salah satu daerah yang banyak didiami penduduk etnis Lamaholot. Tepatnya tahun lalu, saya menjadi salah seorang pendidik di daerah pedalaman Lembata. Selama satu tahun di sana saya terkesima dengan  begitu taatnya penduduk terhadap adat yang berlaku. Hal yang mungkin langka terjadi di kawasan Indonesia lainnya.
Baca selengkapnya »

(Bukan) Pemain Bola



Foto: Dok. Pribadi

Lebih enam tahun lamanya pergi merantau demi menuntut ilmu, membuatku kehilangan banyak momen bersama teman-teman  masa kecilku dulu. Semuanya sudah banyak berubah, tak lagi seperti dulu. Tak ada canda tawa lepas  tanpa beban khas anak-anak SMA. Semuanya kini lebih serius, lebih dewasa. Topik pembicaraan kini didominasi tentang pekerjaan atau aktivitas sehari-hari yang menurutku kaku.

Mungkin satu hal yang tak berubah, apa yang mereka pikir tentangku. Dua minggu yang  lalu, tak sengaja bertemu seorang teman yang sudah lima tahun lamanya tidak bersua. Namanya Arief, Ia temanku saat masih sama-sama berlatih di SSB di kotaku. Setelah saling berjabat tangan dan menanyakan kabar, lalu Ia kembali mulai membuka percakapan lewat pertanyaan,
“Main di (klub) mana sekarang?” tanyanya.

“Gak ada,” jawabku singkat.

“Kenapa? Gak main bola lagi?”  tanyanya dengan serius.

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab pelan “Aku masih pendidikan,”

***
Baca selengkapnya »

Sport Science Untuk Sepak Bola Indonesia Yang Lebih Baik



foto: solenthess.blogspot.com

“Memajukan sepak bola tidak bisa dengan cara-cara lama, tapi harus dengan pendekatan sport science,”

Kata-kata seperti di atas mungkin kerap kali terdengar dari tokoh-tokoh pembina sepak bola kita. Ya, Sport science telah menjadi istilah yang lazim digunakan untuk menunjukkan keseriusan melakukan reformasi pengembangan sepak bola di tanah air. Bahkan oleh Ketua PSSI saat ini, Djohar Arifin menjadikan sport science sebagai salah satu dari lima pilar pengembangan sepak bola dalam program kerjanya.

Sebegitu penting dan berpengaruhkah penerapan sport science untuk memajukan prestasi sepak bola tanah air yang semakin lama semakin terpuruk ini. Atau mungkin sport science hanyalah sebuah istilah “manis” yang lagi-lagi cuma sekedar wacana alias mimpi. 
Baca selengkapnya »