“Eumpang Breuh”, Film Komedi Aceh di Tonton Orang NTT

foto: http://acehdalamsejarah.blogspot.com


Orang bilang cinta itu datang dari mata turun ke hati. Mungkin benar adanya, hanya lewat pandangan pertama, Joni Kapluk (Abdul Hadi) langsung menaruh hati kepada Yusniar (Nurhasyidah) si kembang desa. Bak gayung bersambut, Yusniar pun seakan terhipnotis cintanya Joni. Singkat cerita, mereka pun mengikat tali cinta sehidup semati.

Akan tetapi kisah cinta mereka tak berjalan mulus. Hubungan Joni dan Yusniar mendapat tantangan keras dari Ayah Yusniar, Haji Uma (Umar Pradana). Joni yang sehari-hari berprofesi sebagai preman kampung dianggap orang yang tidak berpendidikan, tak pantas untuk Yusniar yang lembut, sopan dan penuh tata krama.

Tapi bukan Joni namanya jika menyerah begitu saja. Joni pun berusaha sekuat tenaga mempertahankan ikatan cintanya, walaupun terkadang nyawa sebagai taruhannya. Untunglah Joni punya sahabat seperti Mando Gapi (Sulaiman). yang mau setia membantu dan menemani Joni memperjuangkan hubungan cintanya dengan Yusniar.
Baca selengkapnya »

Meriahnya Tradisi Maulid di Aceh



Masyarakat makan bersama di hari maulid (foto: tribunnews.com)

Bagi umat muslim memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW disetiap tahunnya sudah menjadi sebuah tradisi penting. Maulid pada umumnya merupakan ekspresi rasa cinta umat Islam kepada Rasulnya.

Beragam cara dilakukan umat Islam di seluruh dunia untuk memperingati hari kelahiran Nabi akhir zaman itu. Khusus di Indonesia, peringatan maulid biasanya diisi dengan acara-acara keagamaan seperti ceramah, menyantuni anak yatim, zikir dan doa bersama.

Provinsi paling ujung barat Indonesia,  juga larut akan peringatan hari besar agama Islam itu. Mahsyur sebagai daerah yang lekat dengan nuansa keislaman, di mana Islam telah menyatu dengan budaya jutaan masyarakatnya. Merayakan Maulid adalah sebuah tradisi yang sudah turun temurun bagi orang Aceh.
Baca selengkapnya »

Gading, Mahar Kawin Orang Lamaholot



Sumber foto: lamalerakoteklema.blogspot.com
“Pa Guru, kalau mau cari istri orang sini mudah saja, di Sumatera pasti banyak gajah ko?” Saya bisa tertawa geli sendiri jika ingat-ingat candaan dari seorang teman tadi. Tapi yang dikatakanntya itu memang fakta, bukan candaan. Aturan ini berlaku dalam adat etnis Lamaholot, bila anda ingin menikahi seorang gadis dari suku Lamaholot, mahar atau mas kawinnya berupa gading gajah.

Etnis Lamaholot dikenal sebagai etnis yang sangat kental akan adat dan budayanya. Etnis ini mendiami Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata dan Pulau Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Etnis ini sangat menjunjung tinggi kearifan lokal, jangan heran masih banyak prosesi atau ritual adat yang masih dilakukan hingga kini, termasuk persoalan pernikahan.

Saya pernah berkesempatan menginjakkan kaki di tanah Lembata, salah satu daerah yang banyak didiami penduduk etnis Lamaholot. Tepatnya tahun lalu, saya menjadi salah seorang pendidik di daerah pedalaman Lembata. Selama satu tahun di sana saya terkesima dengan  begitu taatnya penduduk terhadap adat yang berlaku. Hal yang mungkin langka terjadi di kawasan Indonesia lainnya.
Baca selengkapnya »