Bukan Akhir Sebuah Pengabdian (Catatan Akhir Seorang Pendidik Muda di Pedalaman NTT)



Dok. Pribadi
"Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa."

Alunan lagu Himne Guru (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa) tersebut dinyanyikan dengan khidmat oleh seluruh siswa-siswaku. Suasana pun hening di ruang yang sederhana itu, air mata ku pun keluar deras tak terbendung. Sesekali ku kuatkan diri melihat wajah-wajah lugu yang tepat berada di hadapan, mereka pun sedang menyeka-nyeka air matanya. Tak kuat rasanya!

Hari itu senin (16/09/2013), hari terakhir aku berada di SMPN 2 Nagawutung. Tak terasa hampir setahun sudah berada di sini, Melewati hari-hari penuh suka maupun duka, kini saatnya mengucapkan sayonara.

Kepala sekolah, dewan guru dan siswa secara spontan menyiapkan acara sederhana untuk perpisahan sekaligus pelepasan bagiku. Acara yang sebenarnya membuat langkah kakiku semakin berat meninggalkan semua yang ada di sekolah ini.
Baca selengkapnya »

Kalah Tipis, Langkah SM-3T Aceh Terhenti

Tim SM-3T Aceh
Lembata, NTT - SM-3T Aceh harus mengakui ketangguhan tim Belabaja, setelah takluk dengan skor tipis 1-0 pada babak delapan besar turnamen Naga Cup 1 kemarin (11/09/2013) sore Wita. Mengusung misi sama untuk lolos ke babak semifinal, laga sarat gengsi tersebut berjalan alot hingga akhir laga.

SM-3T Aceh yang merupakan runner-up pool C, membuktikan bahwa mereka bukan tim ecek-ecek setelah mampu memberikan perlawanan sengit kepada salah satu tim kuat di Kecamatan Nagawutung yang juga juara Pool A, Belabaja.

Tampil dihadapan ratusan pasang mata yang memadati lapangan sepakbola desa Loang. Kedua tim tampil ngotot demi memburu kemenangan. Pertarungan keras selama 2x35 menit pun tak terelakkan, memaksa wasit mengeluarkan beberapa kartu kuning.
Baca selengkapnya »

Ozil dan Pentingnya Sebuah Kepercayaan

Mesut Ozil (sumber foto: AIFC)
Jendela transfer musim panas telah resmi ditutup tanggal 2 September lalu, begitu banyak kejutan yang terjadi didetik-detik akhir masa transfer. Salah satunya adalah kepindahan bintang Real Madrid, Mesut Ozil ke klub Liga Primer Inggris, Arsenal.

Tak ada yang menyangka gelandang berusia 24 tahun ini akan meninggalkan -- tepatnya dilepas -- Real Madrid, mengingat track record yang cukup baik selama tiga musim bermain di Santiago Barnabeu. Ozil menjadi bagian penting klub kebangggan Ibukota tersebut dalam meraih gelar juara Liga Spanyol musim 2011-2012.

Yang membuat orang tak habis pikir, alih-alih memilih pindah ke klub besar nan kaya raya yang menjanjikan gaji besar dan gelar juara. Kenapa Arsenal?

Banyak pengamat yang beranggapan kepindahan Ozil ke Arsenal sebagai langkah mundur bagi karier pemain berdarah Turki tersebut. Arsenal yang tidak pernah memenangi gelar mayor apapun selama delapan tahun, dianggap bukanlah klub yang cocok bagi Ozil untuk meraih puncak kariernya sebagai pesepakbola.
Baca selengkapnya »

SM-3T Aceh Taklukkan Waikerong B



Tim SM-3T Aceh
Tim SM-3T Aceh tampil gemilang pada laga perdana Grup C turnamen Naga Cup 1, setelah unggul tipis dari tim desa Waikerong B dengan skor 2-1 pada Rabu (04/09/2013) sore.

Menurunkan pemain-pemain terbaiknya, SM-3T Aceh tampil ngotot sedari awal laga demi mengamankan tiga poin. Tampil dominan sepanjang laga namun buruknya penyelesaian akhir membuat SM-3T Aceh hanya bisa menang dengan skor tipis.

SM-3T Aceh sempat unggul di babak pertama lewat sontekan M. Darmansyah, pada awal babak kedua Waikerong sempat membuat gol penyama, namun tendangan pinalti Rizki Zulfitri diujung laga berhasil mengunci pertandingan untuk kemenangan SM-3T Aceh.
Baca selengkapnya »

Nikmatnya Mie Aceh, Bukan Sekedar Mie Biasa

Foto: palingindonesia.com
Hampir setahun sudah tidak pulang ke kampung halaman (Aceh). Rindu pastinya, sudah lama tidak menikmati kebersamaan bersama keluarga, kekasih hati dan teman lama. Belum lagi dengan suasana tanah kelahiran yang “hangat” seakan mempunyai daya magnet yang terus menarik penulis untuk segera pulang. Salah satu “magnet” tersebut apalagi kalau bukan kuliner-kuliner khas Aceh yang selama diperantauan hanya bisa dinikmati dalam khayalan.

Salah satu kuliner khas Aceh yang bisa dibilang masuk dalam jajaran kuliner top  di tanah Iskandar Muda adalah Mie Aceh. Sekilas dari namanya mungkin terlalu biasa, “hanya” mie. Tapi tunggu dulu, kuliner legendaris ini bukan mie biasa.

Mie Aceh adalah sebuah masakan yang berbahan dasar mie kuning tebal yang di campur dengan bumbu yang kaya akan rempah-rempah. Untuk menambah cita rasa biasanya ditambah dengan irisan daging sapi atau ayam bahkan makanan laut seperti kepiting, udang dan cumi.
Baca selengkapnya »

Our Journey: Mota’ain, Perbatasan Indonesia-Timor Leste

Berpose di jembatan Batugade, Timor Leste (Dok. pribadi)
Sejarah mencatat pada tanggal 30 Agustus tahun 1999 lalu, Jajak Pendapat atau yang oleh pendukung antiintegrasi lebih dikenal dengan sebutan referendum kemerdekaan, dilaksanakan di provinsi termuda Indonesia kala itu, Timor Timur (Timtim). Proses Jajak pendapat yang mendapat pengawasan langsung dari PBB itu dilaksanakan serentak di seluruh Timtim dan daerah di luar Timtim dimana warga dan keturunan Timtim berada.

Hasilnya, diluar perkiraan pemerintah Republik Indonesia, mengutip dari sumber Wikipedia, hasil Jajak Pendapat menunjukkan bahwa sekitar 78,5% atau sekitar 344.580 orang Timtim memilih merdeka dan menolak status khusus dengan otonomi luas yang ditawarkan Pemerintah dan 21,5 % atau sekitar 94.388 orang menerima tawaran tersebut. Akhirnya pada tahun 2002, Indonesia dan dunia internasional mengakui kedaulatan Timtim sebagai sebuah Negara yang dengan resmi bernama: Republik Demokratik Timor Leste,

Ya, Timtim kini bukan lagi bahagian dari Indonesia. Kita sekarang punya tetangga baru bernama Republik Demokratik Timor Leste. Beberapa waktu yang lalu, penulis bersama teman -- berjumlah enam orang, berkesempatan melakukan perjalanan (touring) mengunjungi daerah perbatasan RI-Timor Leste di kawasan Mota’ain, kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca selengkapnya »

Piala Antar Pemuda Lintas Agama Lembata dan Sepak Bola Tanpa Diskriminasi



Suasana pertandingan (Foto: Irvan)
Belum lama ini, Paroki Arnoldus Yansen Waikomo, sebuah Paroki Agama Kristen Katolik yang berbasis di desa Waikomo, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyelenggarakan sebuah turnamen sepakbola yang diberi nama “Piala Antar Pemuda Lintas Agama se- Kabupaten Lembata”.
                  
Turnamen yang berpusat di lapangan sepakbola desa Waikomo ini, telah rampung diadakan pada 22 Juli-5 Agustus 2013 lalu -- bertepatan dengan bulan suci Ramadhan -- diikuti oleh belasan organisasi kepemudaan dan organisasi keagamaan, seperti Orang Muda Katolik (OMK) dan Remaja Masjid (Remas) se kabupaten Lembata.

Turnamen yang juga merupakan ajang seleksi bagi pesepakbola muda Lembata menuju kejuaraan sepakbola akbar tahunan, Piala El-Tari dan Piala Gubernur NTT, telah menemukan tim yang terbaik. Ucapan selamat patut diberikan kepada OMK Waipukang yang berhasil menjadi juara pertama, setelah menundukkan Remas At-taqwa lewat adu pinalti pada partai final.  Berikutnya OMK Tokojaeng dan Pemuda Genit Solofide Wangatoa yang masing-masing berhak mendapat gelar juara ketiga dan keempat.
Baca selengkapnya »

Kos Putroe Aceh, “Gampoeng” Aceh di Lembata

Kos Putroe Aceh (Foto: Irvan)


“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”

Pasti anda sudah sering mendengar kutipan kata-kata mutiara dari Imam Syafii di atas , ya, kata-kata tersebut diselipkan seorang penulis terkenal, Ahmad Fuadi dalam Mahakarya-nya  Novel best seller, Negeri 5 Menara. Kata-kata tadi mungkin telah mengilhami banyak orang untuk kuat dalam masa perantauan,termasuk perempuan-perempuan muda asal Aceh yang kini tengah mengabdi di pelosok Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Tepat di kawasan Wangatoa Bawah, Kelurahan Selandoro, Kota Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT, tinggallah belasan wanita muda yang berasal dari provinsi paling barat Indonesia, Aceh. Mereka menghuni kamar kos-kosan yang diberi nama, Kos Putroe Aceh, milik seorang PNS di lingkungan Kementerian Agama kabupaten Lembata, bernama Sultan Nasir.
Baca selengkapnya »

Muna, Bersabarlah Sayang!

Munawarah (Dok. Pribadi)
Banda Aceh, empat setengah tahun yang lalu, pertama kali ku kenal dirimu. Perkenalan singkat lewat seorang teman -- yang sudah kita anggap sebagai kakak sendiri, entahlah, itu suatu perkenalan biasa atau memang kita sedang dijodohkan. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku telah memperhatikanmu jauh sebelum hari itu, walau kita berbeda jurusan, aku sudah sering melihatmu menjadi pemandangan indah di kampus.

“Muna,” terdengar lembut suaramu saat kita berkenalan dulu. Gadis manis berlesung pipi, yang sepertinya tak henti memancarkan pesonanya. Tapi bukan aku namanya bila terlalu gampang jatuh cinta. Pembawaanku yang jaim dan pemalu membuat tak terjadi apa-apa hari itu, bahkan untuk sekedar nomor handphone!

Memang tak ada perasaan apa-apa saat itu, tak ada chemistry atau perasaan yang “beda”, semuanya murni teman. Tapi waktu berkata lain, berawal dari merajut persahabatan biasa, pelan-pelan rasa itu pun timbul, akhirnya aku yang super pemalu, lewat perjuangan yang luar biasa memberanikan diri untuk menyatakan cinta, tepat pada 26 Januari 2009, kita pun “meresmikan” hubungan kita.
Baca selengkapnya »

Walau Berat, Ramadhan Tetaplah Ramadhan



Tanpa terasa sudah memasuki separuh kedua Ramadhan, bulan penuh kemuliaan berjalan dengan cepatnya. Bulan suci yang selalu dinanti-nanti oleh lebih satu miliar umat muslim di seluruh dunia ini tak sampai dua pekan kedepan bakal meninggalkan kita.

By the way, semua orang tentu punya cerita tersendiri dengan bulan suci yang penuh berkah  tersebut, entah itu cerita gembira, sedih bahkan haru. Tak terkecuali aku, berlatarbelakang lahir dan besar di komunitas muslim (Aceh), tetapi Ramadhan kali ini, dikarenakan tengah mengabdi sebagai pendidik didalam satu program pemerataan pendidikan, harus menjalankan ibadah puasa di kawasan dimana muslim sebagai minoritas.

Berpuasa di kawasan timur Indonesia  dan jauh dari sanak keluarga di bumi Iskandar Muda sana adalah pengalaman pertamaku. Menjalankan puasa di daerah yang penduduk muslimnya “hanya” 30% -- bahkan berdasarkan statistik terakhir yang dikutip dari Wikipedia hanya 28% -- merupakan sebuah tantangan tersendiri yang telah menguatkan diri sebagai muslim sejati.
Baca selengkapnya »

Jejak Pesepak Bola Aceh di Timnas (Who The Next Ismed Sofyan?)

Ismed Sofyan (Foto; www.zimbio.com)
Akhir-akhir ini ditengah kebobrokan prestasi sepakbola nasional, kita seakan kembali bergairah dengan kedatangan tiga klub elit Eropa. Tak tanggung-tanggung raksasa English Premier League (EPL) Arsenal, Liverpool dan Chelsea, yang dalam waktu berdekatan menyambangi Gelora Bung Karno dalam kampanye Tour Asian mereka. Dengan mengandalkan pemain-pemain terbaiknya, mereka tampil “serius” menghadapi kumpulan pemain-pemain terbaik Indonesia.



Bukan rahasia lagi negara kita adalah pasar terbesar di Asia Tenggara, hal ini menjadikan lawatan ketiganya ke Indonesia lebih kepada strategi perluasan bisnis dan tentunya meraih pundi-pundi uang, Terlepas dari tujuan hadir ketiganya ke negara yang “hanya” berperingkat 170 FIFA, menghadapi klub top Eropa adalah suatu kebangggan dan juga momentum bagi pesepakbola kita untuk belajar dari pemain-pemain kelas dunia.



Menarik jika menilik susunan pemain asuhan pelatih Jackson F. Tiago pada laga melawan Arsenal dan Liverpool, dan pelatih Rahmad Darmawan pada laga melawan Chelsea. Sebagai putra Aceh, penulis miris, tak ada seorang pun pemain berdarah Aceh yang masuk ke dalam skuad. Pasti ada yang salah dengan pola pembinaan sepakbola Aceh!
Baca selengkapnya »

My Journey: Menikmati "Surga" di Puncak Kelimutu



 puncak gunung Kelimutu (Dok. Pri)
Masih ingat uang pecahan Rp 5000,- (Lima Ribu Rupiah) yang menjadi alat tukar resmi pada tahun 1990-an? bagi anda yang memorinya masih baik pasti dengan mudah mengingat gambar yang ada pada uang tersebut. Ya, di salah satu sisi uang tersebut, tepatnya di bagian belakang terdapat gambar Danau Tiga Warna Kelimutu di pulau Flores yang telah mendunia itu.


Pulau Flores memang begitu mempesona, tak salah apabila S.M. Cabot, seorang Portugis yang pertama kali menginvasi daerah tersebut pada empat abad yang lalu, memberikan nama dengan bahasa Portugis “Cabo des Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Kenapa bunga? apalagi kalau bukan karena ketakjuban mereka atas keindahan pulau Flores. 

Salah satu sudut Flores yang membuat kita seakan-akan tengah berada di “Surga” adalah Danau Tiga Warna Kelimutu. Suatu keindahan yang luar biasa berupa fenomena alam yang tidak ada duanya di muka bumi, yakni Tiga Danau Kawah yang bisa berubah-ubah warna dengan sendirinya. Keajaiban alam yang dibangun oleh aktivitas geologi gunung Kelimutu, yakni gunung api aktif setinggi 1.690 m di atas permukaan laut.
Baca selengkapnya »

Sarjana Mendidik Asal Aceh Gelar Aksi Sosial Dari Aceh Untuk Lembata

tampak penampilan tarian "Tarek Pukhat" (Foto: Miswan Huda)

Menjadi seorang pendidik dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T), bukan semata-mata bertugas untuk mengisi kekosongan tenaga pendidik di daerah 3T. Tetapi lebih dari itu, SM-3T dituntut untuk melaksanakan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung program pembangunan pendidikan di daerah 3T.


Hal inilah yang mendorong para Sarjana Mendidik asal LPTK Universitas Syiah Kuala Aceh penempatan kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar Aksi Sosial dari Aceh untuk Lembata dengan mengusung tema “Mengemas Generasi Emas Untuk Indonesia Emas”.

Berpusat di desa Babokerong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata. Aksi sosial ini sendiri dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 6-8 Juli 2013. Kegiatan aksi sosial berlangsung lancar, banyak agenda yang disiapkan oleh para “Cekgu Aceh” dan panitia lokal. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi: khitan massal, aneka lomba, pelatihan kepemimpinan, pertandingan olahraga, pementasan seni dan budaya dan bakti sosial.
Baca selengkapnya »

Stadion Halliwen Atambua, Potret Buram Sepak Bola Indonesia (Timur)

Stadion Halliwen Atambua (Dok. Pribadi)

Perjalanan Menuju Perbatasan antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) – Negara Demokratik Timor Leste, membawa penulis kepada pemandangan yang menyesakkan dada. Tepat di kawasan Halliwen, kota Atambua ibukota kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat stadion sepakbola yang dulu sempat digadang-gadang akan menjadi stadion termegah di Atambua, namun kini hanya tinggal besi dan beton tua yang menghitung hari untuk roboh.
                                       
Bila kita perhatikan stadion Halliwen walau belum rampung, sudah dalam perencanaan pembangunan yang baik, terdapat tribun utama yang bisa menampung sekitar 1000 penonton. Tepat di bawah tribun di lengkapi dengan mess pemain dan kantor. Keliling stadion juga dibangun beton setinggi 3 meter. Luas lapangan sudah sesuai dengan standar Internasional. Belum lagi letak stadion yang strategis, hanya berjarak sekitar 500 meter dari Bandar udara Halliwen Atambua.

Tapi nyatanya kini, stadion Halliwen hanya jadi "bangkai" yang mungkin hanya menjadi pengganggu pandangan para pengguna jalan. Dari kejauhan kita mendapati pemandangan ternak yang sedang menikmati rumput stadion Halliwen dengan lahapnya. Ya, pemandangan yang aneh, seharusnya kita melihat sekelompok anak manusia sedang bermain si kulit bundar, bukan hewan. miris!
Baca selengkapnya »

Sepak Bola VS Pendidikan, Pilih Mana?



ilustrasi
Jutaan anak Indonesia bermimpi menjadi pemain sepakbola profesional. Tapi kenyataannya, tak ada jaminan hidup disepakbola negeri ini, hal inilah yang akhirnya membuat para orang tua yang peduli dengan masa depan anaknya, memilih mengarahkan anaknya di jalur pendidikan.

Sejak keluarnya peraturan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 1 tahun 2012, dengan tegas Mendagri menyetop pengucuran Anggaran Penda­patan Belanja Daerah (APBD) oleh pemerintah daerah untuk klub sepakbola profesional. Tak boleh lagi ada dana untuk sepakbola pro­fesional, klub sepakbola profesional dituntut untuk mandiri mencari dana sendiri untuk membiayai kebutuhan operasional kompetisi.

Masih segar dalam ingatan, 11 pemain PSMS Medan yang berkompetisi di divisi utama PT LI, melakukan unjuk rasa di Kantor PSSI pusat. Dengan bermodal nekad mereka menyambangi Senayan untuk bertemu para petinggi-petinggi PSSI. Mereka ingin mengadu akan nasib mereka yang gajinya selama 10 bulan tak di bayar oleh klub. Selama di Jakarta mereka hanya makan seadanya dan bahkan tidur di Masjid, layaknya gerombolan gelandangan. Padahal mereka adalah pesepakbola profesional yang menggantungkan hidupnya di sepakbola, bagaimana juga dengan nasib anak istri mereka yang harus dinafkahi? miris!
Baca selengkapnya »

Sepak Bola Milik Semua, Kejar Mimpimu nak!

SSB Naga Muda (Dok. Pribadi)

Sepakbola itu universal, sepakbola milik semua. Tak peduli status sosial anda, latarbelakang pendidikan, asal-usul, etnis, ras, bahkan agama, semuanya bersatu dalam sepakbola. Tak terkecuali anak-anak petani desa Belabaja sekitarnya, atau yang lebih populer dengan sebutan kawasan Boto. Hidup di daerah yang jauh dari  hingar bingar kota, tak membuat mereka berhenti merajut asa menjadi pesepakbola. 

 

Boto merupakan sebutan untuk desa Belabaja dan desa Labalimut yang dahulunya adalah satu desa, namun karena terjadi pemekaran, Boto terbelah menjadi dua desa tadi. Boto sendiri berada di kecamatan Nagawutung, kabupaten Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari kota Lewoleba -pusat pemerintahan kabupaten Lembata-, butuh waktu sekitar dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor untuk menuju daerah tersebut. 

Tapi tunggu dulu, untuk menuju ke sana anda harus ekstra berhati-hati, kondisi jalan yang rusak parah bakal membuat anda "setengah mati". Jangan mengharapkan merasakan nikmatnya listrik disiang hari, karena listrik hanya menyala selama 12 jam pada malam hingga pagi hari. Belum lagi jaringan telekomunikasi juga masih susah payah membuat kawasan Boto terasa terisolir.
Baca selengkapnya »

Jelang Sail Komodo, Lembata Adakan Pembersihan Pantai Waijarang

Tampak para pelaku aksi sosial sedang membersihkan semak di pinggiran jalan menuju pantai

Pergelaran akbar Sail Komodo 2013 tinggal hitungan hari, kabupaten Lembata sebagai salah satu lokasi destinasi wisatawan domestik dan mancanegara pada ajang tersebut, makin giat mempersiapkan diri. Salah satunya dengan mengadakan kerja bakti pembersihan lingkungan pantai Waijarang, pada hari jumat (07/06/2013) lalu.

 

Aksi sosial tersebut langsung dipimpin oleh Bupati Lembata, Eliaser Yentje Sunur, dan Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun, serta dihadiri oleh segenap PNS dan Karyawan lingkungan instansi pemerintah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Lembata, Masyarakat desa Waijarang dan juga berpartisipasi para Sarjana Medidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) asal Aceh penempatan kabupaten Lembata.

Aksi tersebut sendiri dimulai pada pukul 07.00 Wita dan selesai pada pukul 11.00 Wita. Fokus pembersihan adalah lokasi wisata pantai Waijarang dan akses jalan menuju lokasi wisata yang terkenal dengan pasirnya yang putih tersebut. Segala jenis sampah dan semak belukar di sekitar lokasi tak ada yang luput dari perhatian pelaku aksi sosial.

Baca selengkapnya »

Penyelenggaran O2SN di Daerah 3T, Formalitas kah?


 
Tim Bolvoli Putra Kecamatan Nagawutung O2SN Kabupaten Lembata 2013
Penyelenggaraan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (02SN), telah memasuki edisi ke-6. Suatu kegiatan tahunan yang bertujuan memberikan motivasi siswa untuk menyalurkan bakat dan minat terhadap olahraga. Ajang ini diadakan berjenjang dari tingkat Sekolah/Gugus, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional. Para atlet yang mampu meraih juara O2SN tingkat nasional nantinya akan disiapkan mewakili Indonesia di ajang olahraga internasional tingkat pelajar.

Sekilas tak ada yang salah dari event olahraga multi cabang tingkat pelajar yang pertama kali di gelar tahun 2008 tersebut, banyak atlet pelajar potensial terjaring tiap tahunnya. Penyelenggaraan O2SN juga banyak menuai pujian dari kalangan pemerhati olahraga. Ya, atlet pelajar adalah pintu menuju atlet berprestasi di masa depan. Pemerintah sadar, tak ada yang instan dalam pembinaan olahraga pretasi.


Baca selengkapnya »

Akhir Drama Trio London (Pengalaman Berbicara)

Kompetisi sepakbola yang disebut-sebut sebagai liga terbaik di dunia, Barclays Premier League (BPL) musim 2012-2013 telah berakhir sepekan yang lalu. Banyak catatan menarik yang tersisa, bukan hanya drama perebutan mahkota gelar juara oleh duo Manchester, drama perebutan zona Liga Champions (LC) dan adu gengsi trio London Chelsea, Arsenal dan Tottenham Hotspur juga turut menghiasi BPL sepanjang musim. 


Membicarakan persaingan tiga tim ibukota tersebut jauh lebih menarik, ketimbang membahas siapa yang menjadi pemuncak klasemen. Bagaimana tidak, Persaingan ketat ketiganya menjelang finish membuat jantung para fans berdetak lebih kencang. Saling bergantian mengisi posisi 3-5 klasemen, pada akhirnya peraih jatah sisa tiket zona LC baru bisa ditentukan pada hasil pertandingan terakhir liga.

Mari kita sejenak mundur ke belakang.


Baca selengkapnya »

Lamalera dalam Lensa

Menjadi seorang pendidik tugas utamanya adalah mendidik, hal ini sudah terpatri jelas oleh seluruh Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam proses pengabdian tersebut seorang Sarjana Mendidik disadari ataupun tidak telah menikmati berbagai “bonus” yang disediakan, bonus tersebut bukan hanya sekedar menambah “jam terbang” sebagai seorang pendidik, atau menikmati biaya hidup yang mengalir ke rekening tiap bulannya. “Bonus” yang tidak kalah penting adalah dapat menikmati keindahan alam Indonesia lengkap dengan tradisi adat dan budayanya.

Siapa yang tidak mengenal tradisi perburuan ikan paus secara tradisional di Lamalera. Tradisi yang sudah turun temurun sejak berabad-abad yang lalu ini menjadi brand kabupaten Lembata. Kebanyakan orang lebih mengenal tradisi ini ketimbang Lembata itu sendiri. Ya, tradisi perburuan ikan paus yang berada di pantai selatan kabupaten Lembata tersebut telah mendunia, tak hanya wartawan dan pelancong lokal yang wara-wiri meliput tradisi tersebut, tapi turis-turis dari berbagai belahan dunia juga tak mau kalah ikut mengabadikan prosesi tersebut.
Baca selengkapnya »