Resolusi 2014: Terus Belajar dan Raih Mimpi


foto: simfonikehidupan.wordpress.com
Orang-orang Barat berkata: “Time flies when you’re having fun,” yang jika kita coba terjemahkan kira-kira bermaknakan: “Waktu berlalu tanpa terasa jika kita senang hati menjalaninya.” Ya, memang benar adanya. Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Hanya dalam hitungan beberapa hari saja kalender pun akan berganti. Sejenak terbayang kembali momen-momen bersejarah dalam hidup yang terjadi pada tahun 2013 lalu. Suka dan duka yang bergantian menyelimuti sepanjang tahun akan berubah menjadi kenangan.

Banyak yang sudah  menantikan datangnya tahun 2014. Tahun yang bagi orang Indonesia dianggap sebagai tahunnya politik. Doa, harapan dan semangat baru menancap di diri kita masing-masing. Tak terkecuali denganku. Aku pun sudah mempersiapkan resolusi untuk tahun depan. Sederhana tapi penting, aku ingin terus mengenyam pendidikan. Belajar, belajar dan belajar!

Awal tahun 2014 ini aku sudah ditunggu oleh pendidikan formal bernama Pendidikan Profesi Guru (PPG). Selama setahun aku akan kembali ke universitas untuk belajar bagaimana menjadi seorang guru profesional. Program PPG ini aku dapatkan melalui beasiswa dari Kemendikbud. Beasiswa itu ku dapat setelah bersama teman-teman lainnya bertugas menjadi pendidik di salah satu daerah tertinggal di Indonesia.

Ini adalah sebuah langkah besar. Aku berkesempatan untuk terus menggali diri khususnya sebagai seorang pendidik. Bila berhasil dalam pendidikan nanti, gelar di belakang namaku akan bertambah menjadi “S.Pd, Gr.”, Orang tuaku pasti bangga. Aku juga ingin dikenal sebagai guru Pendidikan Jasmani yang punya kualitas. Aku tidak ingin profesi guru Penjas dianggap remeh dan dilecehkan orang. Aku ingin menunjukkan bahwa seorang guru Penjas punya andil besar dalam membangun karakter generasi penerus bangsa.

Tidak hanya dengan pendidikan formal. aku ingin terus meningkatkan kapasitas dan kapabalitas diri. Aku ingin terus menggembleng diri dengan hal-hal positif.  Walaupun terlambat, aku sangat ingin mahir berbahasa Inggris. Bukannya  latah dengan hal-hal yang berbau western. Atau ingin terlihat keren dengan gaya bahasa  “keinggris-inggrisan”. Tapi memang kemampuan berbahasa Inggris sangat penting untuk bersaing di era globalisasi ini. Aku sadar betul dengan hal itu..

Mulanya keinginan itu mucul saat aku masih di bangku kuliah. Semasa kuliah aku pernah menjadi pelatih sepak bola mini di salah satu sekolah Internasional milik Turki yang ada di Aceh. Siswa-siswa yang aku latih adalah anak-anak sekolah dasar. Ada dari penduduk lokal  dan ada juga Warga Negara Asing yang orang tuanya sedang bekerja di Aceh. Mayoritas mereka berasal dari Turki, ada juga dari Korea dan Jerman. Aku salut sekaligus malu. Salut melihat kemampuan berbahasa mereka, dengan usia masih 8-10 tahun mereka sudah sangat lancar berbahasa Inggris. Sedang aku yang sudah setua ini sampai sekarang belum bisa berbahasa Inggris.

Akhir tahun 2013 ini aku sudah memulai kursus privat bahasa Inggris. Aku butuh waktu untuk bisa fasih berbahasa Inggris. Kadang ada rasa menyesal kenapa tidak sedari dulu belajar? Kenapa semasa sekolah dulu  tidak mengikuti ajakan orang tua untuk mengikuti kursus english ? “Ah, tak ada kata terlambat untuk belajar,” ujar ku dalam hati, sekedar untuk menghibur diri. Dengan semangat terus belajar aku yakin kemampuan bahasa Inggrisku akan semakin baik. Siapa tahu mimpi melanjutkan pendidikan S-2 ke luar negeri suatu saat nanti bisa jadi kenyataan.

Satu lagi, di tahun 2014 ini juga aku ingin mengambil lisensi kepelatihan. Sedari kecil aku sangat cinta sepak bola. Aku juga bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Tak jelasnya masa depan seorang pemain bola membuat kedua orang tuaku memaksaku agar meneruskan pendidikan (kuliah). Tapi hal tersebut tak serta merta membuatku melupakan sepak bola. Rasa cinta ini begitu kuat. Aku telah berikrar untuk mengabdikan diri memajukan sepak bola nasional. Jalan yang ku pilih adalah menjadi pelatih sepak bola.

Aku harus memulainya dari nol. Walaupun selama ini telah melatih di SSB dan sekolah tempatku mengajar, aku merasa tanpa mengambil lisensi kepelatihan aku tidak akan berkembang. Melatih sepak bola tidak boleh hanya sekedar dari pengalaman saat menjadi pemain. Seorang pelatih dituntut untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman. Memang biaya untuk mengikuti lisensi kepelatihan tidak murah, tapi aku sangat optimistis. Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Aku cukup matang saat ini. Tahun 2014 nanti aku akan berumur seperempat abad. Tapi tak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu. Meminjam kata-kata Mahatma Ghandi, “Hiduplah seakan engkau akan mati besok. Belajarlah seakan engkau akan hidup selamanya” Ya, aku akan terus belajar dan berusaha mengejar mimpi-mimpiku. Semoga Allah SWT meridhai langkah-langkahku.

======

@RizkiZulfitri

Tidak ada komentar on "Resolusi 2014: Terus Belajar dan Raih Mimpi"

Leave a Reply