Akhir Drama Trio London (Pengalaman Berbicara)

Kompetisi sepakbola yang disebut-sebut sebagai liga terbaik di dunia, Barclays Premier League (BPL) musim 2012-2013 telah berakhir sepekan yang lalu. Banyak catatan menarik yang tersisa, bukan hanya drama perebutan mahkota gelar juara oleh duo Manchester, drama perebutan zona Liga Champions (LC) dan adu gengsi trio London Chelsea, Arsenal dan Tottenham Hotspur juga turut menghiasi BPL sepanjang musim. 


Membicarakan persaingan tiga tim ibukota tersebut jauh lebih menarik, ketimbang membahas siapa yang menjadi pemuncak klasemen. Bagaimana tidak, Persaingan ketat ketiganya menjelang finish membuat jantung para fans berdetak lebih kencang. Saling bergantian mengisi posisi 3-5 klasemen, pada akhirnya peraih jatah sisa tiket zona LC baru bisa ditentukan pada hasil pertandingan terakhir liga.

Mari kita sejenak mundur ke belakang.


Chelsea, start di liga sebagai juara bertahan LC dan FA Cup. Lewat pembelian pemain-pemain muda berbakat seperti Eden Hazard, Oscar, Cesar Aplizicuetta, Victor Moses dan Marko Marin, Chelsea tampil meyakinkan dengan menyapu bersih beberapa pertandingan awal liga. Tapi, Chelsea bukan tanpa cela. Jadwal padat di liga plus keharusan untuk fokus mempertahankan gelar LC akhirnya membuat Chelsea linglung. Posisi mereka dipuncak klasemen disalip duo Manchester dan naasnya mereka gagal ke fase Knock Out LC.

Sang pemilik klub yang terkenal dengan kebijakan tangan besinya, Roman Abramovich, menampakkan kuasanya. Pergantian di kursi pelatih tidak bisa dihindari, Roberto di Matteo yang telah berjasa memberi gelar LC untuk The Blues dicopot pada bulan November dan digantikan oleh mantan pelatih Liverpool, Rafael Benitez. Sempat tak mendapat dukungan dari publik Stamford Bridge, Rafael Benitez menunjukkan kelasnya sebagai pelatih top dengan membawa Chelsea finish diposisi tiga klasemen akhir dan membawa Si Biru juara Europa League. Ending yang manis untuk Chelsea.

Tottenham Hotspur, memulai era baru dengan memberhentikan Harry Redknapp dan menjadikan pelatih muda berbakat, Andre Villas Boas (AVB) sebagai suksesor. Sempat kehilangan banyak poin diawal liga, disinyalir karena belum padunya pemain-pemain anyar The Lilywhites. Pada Pertengahan musim tim yang bermarkas di White Hart Lane mulai bangkit dan menemukan performa terbaiknya hingga menembus posisi tiga besar.

Ada dua sosok yang dianggap paling berjasa menaikkan performa Spurs saat itu. Nama pertama adalah sang manajer sendiri, AVB sukses menjadikan Tottenham tim yang disegani bahkan mampu mengalahkan tim sekelas Manchester United (MU) di Old Trafford. Nama terakhir adalah Gareth Bale, top scorer dan pemain terbaik Spurs sepanjang musim ini. Nasib sial dialami Spurs pada akhir musim, cedera yang dialami Bale dan terbelahnya fokus pada Europa League membuat peringkat di liga semakin turun. Akhirnya Spurs harus rela finish di posisi lima, hanya tertinggal satu angka dari peringkat empat, Arsenal.

Arsenal, lagi-lagi mengawali liga dengan membangun tim baru, setelah ditinggal bintang-bintang terbaiknya. Selama paruh pertama musim, Gunners banyak kehilangan poin karena sering bermain imbang dengan tim yang secara kualitas berada di bawah anak-anak asuh Arsene Wenger tersebut. Inkonsistensi terus terjadi, ketidakmampuan Arsenal mengalahkan tim-tim big four kian menjatuhkan mental anak-anak muda London Utara tersebut.

Momentum kebangkitan Gunners terjadi setelah mereka disingkirkan Bayer Munchen pada babak 16 besar LC, kemenangan di kandang Bavarian -walaupun akhirnya kalah agresivitas gol tandang- menambah percaya diri pasukan muda Arsenal. Sadar sudah dipastikan tidak memenangi apa pun tahun ini yang juga tahun ke delapan tanpa gelar, aksi heroik pun dilakukan dengan membuat rekor sepuluh pertandingan liga terakhir tidak terkalahkan, dengan memenangi delapan pertandingan dan dua hasil imbang. Ganjarannya Arsenal finish di posisi empat. Hebat!

Tidak mengecilkan arti kesuksesan MU, yang dengan gaya mampu menjuarai liga di negeri Ratu Elizabeth tersebut. Tak bisa dipungkiri drama trio London menjadi jawaban kenapa BPL musim 2012-2013 menjadi kompetitif dan menarik secara tontonan. Trio London telah menunjukkan kepada kita apa makna persaingan sebenarnya.

Pengalaman Wenger Berbicara

"Wenger adalah Arsenal dan Arsenal adalah Wenger," ungkapan itu rasanya pantas disematkan bagi pelatih yang hampir genap 17 tahun membesut tim meriam London tersebut. Jangan tanyakan lagi komitmennya untuk Arsenal, di saat kritik terus mengalir sepanjang musim tapi Ia tetap mampu menunjukkan kelasnya dengan membawa Arsenal finish di zona LC.

Arsene Wenger
Wenger kembali mematahkan prediksi pengamat yang banyak mengatakan Arsenal akan gagal finish di empat besar. Prediksi yang wajar bila melihat inkonsistensi performa The Gunners hingga menuju akhir musim. Opa berumur 63 tahun ini layaknya seorang sutradara yang telah menyiapkan ending yang manis (walau lagi-lagi tanpa diiringi gelar).

Jangan tanyakan pengalamannya sebagai manajerial klub sepakbola profesional, menghadapi situasi sesulit apapun yakinlah akan selalu dibalasnya dengan senyuman diakhir musim. Seorang penulis asal Amerika, Rita Mae Brown pernah berkata, “Keputusan yang baik berasal dari pengalaman; dan sering sekali pengalaman berasal dari keputusan yang buruk.” Faktanya entah berapa banyak keputusan Wenger yang dianggap keliru, tapi pada akhirnya kita sendiri tahu The Professor lah yang tahu segalanya tentang Arsenal.

Sepakbola sebagai komoditi bisnis utama telah mengubah pandangan manusia terhadap sepakbola. Bermunculannya klub-klub kaya baru, dengan tujuan mengejar prestasi instan lewat uang yang seakan tak terbatas. Sepakbola profesional adalah bagaimana mensinergikan antara pembinaan (development), uang (gold) dan kejayaan (glory), dan Wenger tahu itu. Tak ada seorang pelatih besar yang bahagia tanpa memenangi satu piala pun dalam waktu yang lama.

Dengan finish di urutan ke empat, Arsenal kembali memperpanjang rekor sebagai satu-satunya klub di Eropa yang mampu berlaga di LC selama 17 tahun berturut-turut. Prestasi yang patut diapresiasi, terlepas ketidakmampuan Wenger mempersembahkan gelar untuk Arsenal dalam delapan tahun terakhir. Wenger tetaplah Wenger, Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk The Gunners. Dialah profesional dan Pengalamannya telah berbicara.

*****

Rizki Zulfitri, S.Pd*
twitter: @RizkiZulfitri

Tidak ada komentar on "Akhir Drama Trio London (Pengalaman Berbicara)"

Leave a Reply