Penyelenggaran O2SN di Daerah 3T, Formalitas kah?


 
Tim Bolvoli Putra Kecamatan Nagawutung O2SN Kabupaten Lembata 2013
Penyelenggaraan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (02SN), telah memasuki edisi ke-6. Suatu kegiatan tahunan yang bertujuan memberikan motivasi siswa untuk menyalurkan bakat dan minat terhadap olahraga. Ajang ini diadakan berjenjang dari tingkat Sekolah/Gugus, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional. Para atlet yang mampu meraih juara O2SN tingkat nasional nantinya akan disiapkan mewakili Indonesia di ajang olahraga internasional tingkat pelajar.

Sekilas tak ada yang salah dari event olahraga multi cabang tingkat pelajar yang pertama kali di gelar tahun 2008 tersebut, banyak atlet pelajar potensial terjaring tiap tahunnya. Penyelenggaraan O2SN juga banyak menuai pujian dari kalangan pemerhati olahraga. Ya, atlet pelajar adalah pintu menuju atlet berprestasi di masa depan. Pemerintah sadar, tak ada yang instan dalam pembinaan olahraga pretasi.


Secara konsep O2SN sangat menarik, menumbuhkan kompetisi dikalangan pelajar sehingga diharapkan bisa meningkatkan kualitas atlet pelajar yang nantinya menjadi penerus tongkat estafet atlet berprestasi diajang olahraga tingkat internasional.

Tapi peningkatan mutu atlet berprestasi bukan melulu soal konsep, butuh kerja keras semua pihak untuk mengimplementasikan secara maksimal di lapangan. Ibarat “jemput bola”, atlet nantinya adalah atlet-atlet  terbaik, baik yang berasal dari daerah ataupun dari kota besar, baik yang bakatnya masih mentah ataupun yang sudah terasah.

Perlu dicatat, Harus adanya peningkatan kualitas pelaksanaan, Terjadi kesenjangan yang sangat kentara antara pelaksanaan O2SN di daerah yang notabene adalah daerah yang maju (baca; kota besar) dengan daerah yang secara pembangunan daerahnya masih “compang-camping”.

Dewasa  ini, sering terdengar sebutan daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), yakni sebutan bagi daerah yang masih belum mampu membangun daerahnya sendiri sehingga membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah pusat. Bagaimana sebenarnya penyelenggaraan O2SN di daerah 3T? hal inilah yang coba penulis “kupas”!

Formalitas kah?

Penulis mengambil sampel dari  penyelenggaran O2SN di tingkat Kabupaten Lembata -tempat penugasan penulis dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T)- belum lama ini. Kabupaten yang berada di  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut merupakan salah satu daerah yang mendapat label daerah 3T dari pemerintah pusat, lebih tepatnya di “T” terakhir. Masuk akal memang jika melihat pembangunan di daerah ini yang masih tertinggal hampir disegala bidang.

O2SN tingkat Kabupaten Lembata tahun 2013 telah resmi ditutup pada hari Jumat (31/05/2013). Ucapan selamat pantas diberikan kepada kecamatan Nubatukan yang telah berhasil mempertahankan gelar juara umum. Sebagai Kecamatan yang berada di pusat administrasi kabupaten Lembata, banyak orang yang memaklumi keberhasilan Nubatukan. Ya, pembinaan olahraga prestasi di Lembata belum maksimal di kecamatan-kecamatan, terlalu mendominasinya Nubatukan di berbagai cabang yang dipertandingkan sudah menunjukkan itu.

Bagaimana penyelenggaran O2SN Lembata sendiri, Berlangsung di kota Lewolaba kecamatan Nubatukan dari tanggal 27-31 Mei 2013, mempertandingkan lima cabang olahraga (cabor) untuk tingkat SD dan SMP. Untuk tingkat SD mempertandingkan cabang olahraga Voli mini, Atletik, Catur, Renang dan Karate. Sedangkan untuk tingkat SMP cabang olahraga yang dipertandingkan adalah Voli putra, Atletik, Renang, Karate dan Silat.

Selama penyelenggaraan, penulis mendapati beberapa kendala yang sangat mengganggu. Pengaturan jadwal yang tidak rapi, komunikasi antara panitia dan pendamping kontingen atlet yang tidak mulus, belum lagi tenaga panitia yang jumlahnya terbatas sehingga rawan terjadinya kecurangan baik sebelum maupun selama event berlangsung. Pelaksanaan O2SN di Lembata 2013 layaknya pergelaran yang hanya untuk memenuhi agenda, tampak kurangnya komitmen panitia untuk melahirkan prestasi maksimal. Formalitas kah?

Memajukan olahraga jangan hanya basa-basi, Lembata punya potensi untuk berkembang, apalagi Lembata sebagai juara bertahan O2SN tingkat Provinsi NTT 2012 lalu, tentu para stakeholder dituntut untuk lebih serius lagi. Selain faktor keseriusan panitia, penulis melihat dua faktor "bawaan" daerah 3T yang mengakibatkan kurangnya kualitas pelaksanaan O2SN di daerah 3T.

Pertama, sarana dan prasarana pendukung. Sudah menjadi rahasia umum kelengkapan sarana dan prasarana menjadi masalah utama dalam pengembangan olahraga di daerah. Tak terkecuali Lembata, jangan harap anda mendapati lintasan atletik yang bersatandar nasional. Cabor Atletik sebagai induk olahraga hanya dipertandingkan di lapangan sepakbola. Untuk cabor renang, perlombaan di adakan di kompleks pelabuhan, dengan lintasan perenang hanya dibatasi dengan tali pelastik dan penanda seadanya. miris!

Padahal untuk mendapatkan prestasi maksimal seorang atlet dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Bukan hanya pada saat mengikuti kejuaraan, sedari proses latihan atlet sejatinya butuh fasilitas penunjang. Faktanya, di pusat kabupaten saja sarana dan prasarana tadi sudah tidak memadai apalagi di kecamatan yang jauh dari pusat kabupaten.

Kedua, Sumber Daya Pendidik. Bukan rahasia lagi ketersediaan guru Pendidikan Jasmani (Penjas) di Indonesia masih sangat kurang dan penyebarannya cenderung tidak merata. Sehingga kini banyak lahir guru Penjas "jadi-jadian", yakni guru yang sejatinya adalah spesifikasi di mata pelajaran lain, tetapi karena dituntut oleh keadaan akhirnya menjadi guru Penjas. Dampaknya langsung terasa bagi siswa atau atlet sendiri, pemahaman terhadap peraturan hingga teknik pertandingan siswa masih "buta".

Sebagai garda terdepan dalam usaha memajukan olahraga nasional, sudah saatnya pemerintah meningkatkan jumlah guru Penjas, terkhusus di daerah 3T. Guru Penjas lah yang menjadi motor dalam usaha memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Tak lupa, tingkatkan juga kompetensi guru Penjas di daerah 3T yang sudah ada.

Optimisme harus selalu diusung, O2SN sudah menjadi langkah nyata pemerintah demi kemajuan olahraga nasional. Rangkul daerah 3T, karena di sanalah bakat-bakat alam bertaburan yang siap diasah menjadi berlian.

*****

Rizki Zulfitri, S.Pd

Tidak ada komentar on "Penyelenggaran O2SN di Daerah 3T, Formalitas kah?"

Leave a Reply