My Journey: Menikmati "Surga" di Puncak Kelimutu



 puncak gunung Kelimutu (Dok. Pri)
Masih ingat uang pecahan Rp 5000,- (Lima Ribu Rupiah) yang menjadi alat tukar resmi pada tahun 1990-an? bagi anda yang memorinya masih baik pasti dengan mudah mengingat gambar yang ada pada uang tersebut. Ya, di salah satu sisi uang tersebut, tepatnya di bagian belakang terdapat gambar Danau Tiga Warna Kelimutu di pulau Flores yang telah mendunia itu.


Pulau Flores memang begitu mempesona, tak salah apabila S.M. Cabot, seorang Portugis yang pertama kali menginvasi daerah tersebut pada empat abad yang lalu, memberikan nama dengan bahasa Portugis “Cabo des Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Kenapa bunga? apalagi kalau bukan karena ketakjuban mereka atas keindahan pulau Flores. 

Salah satu sudut Flores yang membuat kita seakan-akan tengah berada di “Surga” adalah Danau Tiga Warna Kelimutu. Suatu keindahan yang luar biasa berupa fenomena alam yang tidak ada duanya di muka bumi, yakni Tiga Danau Kawah yang bisa berubah-ubah warna dengan sendirinya. Keajaiban alam yang dibangun oleh aktivitas geologi gunung Kelimutu, yakni gunung api aktif setinggi 1.690 m di atas permukaan laut.
Langkah - Rejeki - Pertemuan - Maut, jalan hidup siapa yang tahu. Dahulu, gambar Danau Tiga Warna Kelimutu hanya bisa dilihat di pecahan uang kertas, di televisi ataupun media cetak seperti surat kabar, majalah dan kalender. Bak mimpi, keinginan untuk melihat langsung danau yang telah melegenda itu akhirnya terwujud. Belum lama ini (12/07/2013), dalam suasana bulan suci Ramadhan, penulis berkesempatan mengunjungi danau yang menjadi salah satu ikon pariwista provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.


Danau Tiga Warna Kelimutu  terletak 60 km dari  kota Ende (Ibukota Kabupaten Ende-Flores).  Penulis sendiri melakukan perjalanan menuju Kelimutu dari Kota Lewoleba --pusat pemerintahan Kabupaten Lembata-- yang dahulunya bagian dari kabupaten Flores Timur (Flotim), tapi telah memekarkan diri pada tahun 1999 lalu. Penulis dan beberapa orang teman sendiri adalah putra-putri Aceh yang sedang bertugas sebagai Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) di kabupaten Lembata.



Singkat cerita, tibalah kami di gerbang Taman Nasional Kelimutu (TNK). Tepat di pintu gerbang ada pemberitahuan dari pihak pengelola TNK, yang isinya melarang pengunjung untuk masuk ke dalam kawasan Danau Kelimutu. Terhitung mulai Kamis, 6 Juni 2013 kunjungan ke Danau Kelimutu ditutup sementara bagi wisawatan asing dan lokal. Pasalnya, kondisi Gunung Kelimutu saat ini berstatus waspada menyusul peningkatan aktivitas vulkanalogi di gunung itu pada 4 Juni 2013 sekitar pukul 14.00 Wita.

berpose di depan poster Taman Nasional Kelimutu (Dok. Pribadi)
Tapi kami tidak kehilangan akal, setelah melapor ke pengelola TNK, kami diperbolehkan masuk ke dalam kawasan Danau Kelimutu dengan syarat harus didampingi oleh guide lokal yang sudah menunggu di depan gerbang. Setelah bernegosiasi perihal biaya yang harus dikeluarkan kami pun berjalan kaki menuju puncak Kelimutu.

Perjalanan beresiko sebenarnya, mengingat bau belerang kapan saja bisa keluar dari kawah-kawah Kelimutu. Apalagi tampak beberapa tumbuhan di dalam Taman Nasional yang diresmikan pada Oktober tahun 1997 lalu itu, menguning dan sebagian telah mati. Usut punya usut matinya tumbuh-tumbuhan karena aktivitas kawah yang mengeluarkan belerang beberapa waktu lalu.


Tak ada kendaraan bermotor yang diizinkan masuk, semua pengunjung mau tidak mau dan sanggup tidak sanggup harus berjalan kaki melewati jalan yang mendaki sejauh 5 km. Sesekali kami beristirahat di badan jalan karena kelelahan, maklum kondisi tubuh yang sedang berpuasa membuat kami harus berhemat tenaga. Tapi rasa penasaran yang tinggi mampu mengalahkan rasa lelah. Bagi kami, berkunjung ke Kelimutu adalah mimpi yang menjadi nyata. “Kalau bukan sekarang kapan lagi?” ucap seorang teman, bermaksud memompa semangat teman lainnya.

Penulis berlatarkan Tiwu Ata Polo (Dok. Pribadi)

Akhirnya, setelah memakan waktu sekitar satu jam, tibalah kami di puncak Kelimutu, tepat di atas tugu puncak Kelimutu kami mendapati “Surga” itu berada tepat di hadapan kami. Perasaan puas bercampur haru, melihat indahnya danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Mura Koo Fai", Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" --yang saat kami datang telah berubah menjadi warna hitam-- dan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" yang katanya kini tengah aktif memproduksi belerang.


Terlepas dari kesan mistis dan kepercayaan masyarakat adat sekitar Kelimutu yang menganggap Danau Tiga Warna Kelimutu sebagai tempat peristirahatan roh-roh yang telah meninggal, Kelimutu tetaplah primadona pariwisata di Indonesia.

Keindahan dan keunikannya yang hanya satu-satunya dunia, membekas di hati para pengunjungnya. Ribuan orang dari berbagai belahan dunia tiap tahunnya berkunjung ke Kelimutu "hanya" demi menikmati keindahan yang cuma ada di Indonesia, kita harus bangga!

Teman, perjalanan ini membuat ku sadar akan begitu kayanya negara ini, Teman, kita harus bangga jadi orang Indonesia, banyak yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Begitu banyak negara luar yang iri dengan apa yang kita miliki. Teman, tahu kah kau...aku makin cinta Indonesia!


*****

Rizki Zulfitri

Tidak ada komentar on "My Journey: Menikmati "Surga" di Puncak Kelimutu"

Leave a Reply