Kisah Pahit “Timnas” Aceh dan Mimpi Membangun Sepak Bola




foto: zakasz.blogspot.com
Berbicara pembinaan sepakbola usia muda di Aceh tentu mengingatkan kita dengan 30 remaja Aceh yang berguru di Paraguay selama pada priode 2008-2011 lalu. Selama 3.5 tahun mereka belajar sepakbola di Negara Amerika latin tersebut yang biayanya sepenuhnya menggunakan uang rakyat mencapai 45 milyar.

Media-media lokal saat itu kompak menamai mereka dengan sebutan “timnas” Aceh. Sedahsyat itu kah? Yang jelas ekspektasi rakyat Aceh sangat besar saat itu. Suatu hal yang wajar mengingat selama berguru di Paraguay mereka menggunakan fasilitas yang dibiayai oleh rakyat,

Gubernur Aceh saat itu yang juga pemerkarsa program “timnas” Aceh, Irwandi Yusuf mungkin merujuk dari hadits Nabi Muhammad SAW “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China,”
Antusiasme awak Aceh terhadap sepakbola yang luar biasa tak sebanding dengan prestasi yang dicapai. Hal inilah yang mungkin mendasari beliau ngotot untuk mengirim atlet berguru ke luar negeri. Intinya adalah orang Aceh harus banyak belajar.


Tak ada yang salah dengan program Pak Wandi -- sapaan akrab Irwandi Yusuf -- dalam usaha memajukan sepakbola Aceh dan layak mendapat apresiasi. Sebuah gebrakan dari seorang Kepala daerah dan patut di contoh daerah lain. Hanya provinsi Aceh yang berani menghabiskan banyak modal demi kejayaan sepakbolanya.

Beliau sadar, tak ada yang instan dalam olahraga prestasi, termasuk sepakbola, Program pembinaan jangka panjang saat itu dinilai sudah tepat oleh banyak pengamat. Walaupun juga banyak yang beranggapan ide Pak Wandi lebih benuansa politis atau program bagi-bagi duit.

Sekilas program “timnas” Aceh ini mengingatkan kita dengan program pembinaan usia muda oleh PSSI pusat yang diberi nama,  Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia. Bedanya bila “timnas” Aceh berguru ke Paraguay, SAD Indonesia menimba ilmu ke Uruguay. Atau yang lebih lawas kita juga pasti ingat program bernama timnas Baretti dan Primavera pada era 90-an.

Di pundak anak-anak muda hasil seleksi ketat seluruh daerah di Aceh itu, masyarakat sepakbola Aceh mengharapkan akan lahir sebuah tim berkelas sekaligus menjadi kiblat sepakbola di Indonesia. Target realistisnya saat itu adalah cabor sepakbola berprestasi di PON  2012 Riau.

Hampir genap dua tahun kepulangan “timnas” Aceh banyak pertanyaan penulis dapatkan dari teman-teman pemerhati sepakbola dari luar Aceh. Pada intinya mereka penasaran dengan kelangsungan nasib “timnas” Aceh yang fenomenal tersebut.

Ya, kini “timnas” Aceh telah bercerai. Mereka kehilangan “payung” untuk berteduh. Lengsernya Irwandi Yusuf dari kursi Gubernur pada proses Pilkada Aceh periode 2012-2017 disinyalir menjadi penyebab. Sudah menjadi rahasia umum, “timnas” Aceh adalah anak emas Pak Wandi. Tanpa Pak Wandi dikursi Gubernur sulit rasanya membayangkan “timnas” Aceh akan terus jalan.
Mereka pun dianggap sebagai “proyek” gagal. Puncaknya, tahun 2013 mereka memilih jalan masing-masing. Mereka telah menyebar bermain untuk klub-klub lokal yang berlaga di liga profesional baik LPIS maupun PT. LI.

Satu nama jebolan alumni Paraguay yang paling menonjol saat ini adalah Syahrizal (Persija Jakarta), yang kini mendapat panggilan timnas Indonesia U-23 asuhan Rahmad Darmawan. Juga tak bisa dilupakan adalah Zikri Akbar, talenta muda Aceh yang sempat mendapat kontrak di liga profesional Argentina.

Latihan Berkualitas

Pengiriman atlet sepakbola berguru ke luar negeri sejatinya bukan barang baru, Indonesia sebagai negara yang notabene bukan negara maju di bidang sepakbola wajar bila mengirim bakat-bakat terbaiknya untuk dibina menjadi pemain dan kesebelasan yang hebat di negara-negara yang sepakbola maju.

Program jangka panjang seperti SAD, Baretti, Primavera atau “timnas” Aceh sekalipun bisa kita samakan dengan program pemberian beasiswa pendidikan. Bedanya, program tadi mengkhususkan diri dalam mempelajari ilmu sepakbola modern. Intinya, peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM).

Tak ingin mengungkit kisah pahit masa lalu, tapi apa salahnya belajar dari pengalaman. Dalam kasus “timnas” Aceh, logikanya, penggunaan dana hingga 45 milyar selama 3.5 tahun hanya untuk membina 30 anak tentu pemborosan, bahkan menjadi hal yang mubazir saat tim itu bubar tanpa memberikan sesuatu (prestasi) yang membanggakan.

Coba simak yang dikatakan pembina sepakbola, Timo Scheunemann dalam artikelnya Membangun Sepakbola, Belajarlah dari Jepang yang dimuat di media berita online, detik.com. “Tahapan kedua pembinaan ala JFA ( PSSI-nya Jepang) adalah mendidik ribuan bahkan puluhan ribu pelatih Jepang dengan harapan pengetahuan dan kemampuan melatih mereka akan meningkat. Efeknya jelas terlihat. Jutaan anak-anak Jepang mendapatkan program latihan yang lebih berkualitas. Hari lepas hari. Inilah backbone atau tulang punggung pembinaan sepakbola; latihan yang berkualitas. Hari demi hari. Program latihan berkualitas yang dipadu dengan pengetahuan tentang taktik, peningkatan fisik secara efektif, gizi yang menunjang, dan lain-lain dipraktekkan hari demi hari. Semua itu membutuhkan pelatih yang berkualitas,”

Begitu hebatnya prestasi Jepang saat ini salah satu sebabnya karena mereka menciptakan latihan berkualitas di negerinya sendiri. Bahkan awalnya juga mereka banyak belajar dari negara luar, bahkan dari Indonesia. Masih di dalam artikelnya Coach Timo -- sapaan akrab Timo Scheunemann -- menjelaskan sebelum lahirnya J-Leugue, Jepang pernah melakukan studi banding pengelolaan liga profesional ke Indonesia, wah.

Kembali ke “timnas” Aceh, Penulis membayangkan apabila uang 45 milyar milik pemerintah Aceh itu digunakan untuk mendidik ratusan hingga ribuan pelatih Aceh layaknya negara Jepang, mendidik ratusan wasit dari daerah, membangun infrastruktur penunjang seperti lapangan latihan berstandar internasional di tiap-tiap daerah, tak lupa rutin selenggarakan kompetisi kelompok umur dari usia dini (7-12 tahun) hingga usia muda (13-20 tahun).

Dampaknya, SDM sepakbola Aceh meningkat pesat. Program latihan berkualitas bukan hanya dirasakan oleh 30 anak tapi oleh ribuan anak bahkan puluhan ribuan anak berbakat di seluruh Aceh. Apa jadinya bila latihan berkualitas dan kompetisi telah dirasakan anak-anak Aceh, prestasi pun akan mengiringi.

Pada intinya, penulis tidak menyalahkan program jangka panjang pengiriman atlet berguru ke  luar negeri, tapi yang harus dipikirkan adalah kelangsungan mereka sepulangnya menimba ilmu. Harus ada program yang jelas dan berjenjang, jangan ada kesan ditelantarkan. Bila tidak mampu, fokus saja pembinaan lokal. PSSI-nya harus kompeten, harus banyak belajar, harus berani berinovasi!

=====

Rizki Zulfitri
Alumni FKIP Penjaskesrek Universitas Syiah Kuala, Aceh
Twitter: @RizkiZulfitri

Tidak ada komentar on "Kisah Pahit “Timnas” Aceh dan Mimpi Membangun Sepak Bola"

Leave a Reply