Ozil dan Pentingnya Sebuah Kepercayaan

Mesut Ozil (sumber foto: AIFC)
Jendela transfer musim panas telah resmi ditutup tanggal 2 September lalu, begitu banyak kejutan yang terjadi didetik-detik akhir masa transfer. Salah satunya adalah kepindahan bintang Real Madrid, Mesut Ozil ke klub Liga Primer Inggris, Arsenal.

Tak ada yang menyangka gelandang berusia 24 tahun ini akan meninggalkan -- tepatnya dilepas -- Real Madrid, mengingat track record yang cukup baik selama tiga musim bermain di Santiago Barnabeu. Ozil menjadi bagian penting klub kebangggan Ibukota tersebut dalam meraih gelar juara Liga Spanyol musim 2011-2012.

Yang membuat orang tak habis pikir, alih-alih memilih pindah ke klub besar nan kaya raya yang menjanjikan gaji besar dan gelar juara. Kenapa Arsenal?

Banyak pengamat yang beranggapan kepindahan Ozil ke Arsenal sebagai langkah mundur bagi karier pemain berdarah Turki tersebut. Arsenal yang tidak pernah memenangi gelar mayor apapun selama delapan tahun, dianggap bukanlah klub yang cocok bagi Ozil untuk meraih puncak kariernya sebagai pesepakbola.


Tapi Ozil punya jawaban sendiri tentang kepindahannya ke Arsenal, jawabannya sederhana: kepercayaan. Simak kutipan komentar Ozil seputar kepindahannya ke Arsenal yang dilansir ESPN. "Ketika itu, aku sempat yakin aku akan bertahan di Real Madrid,Aku lantas sadar bahwa pelatih (Carlo Ancelotti) dan orang-orang yang bertanggung jawab tidak lagi mempercayaiku, Padahal aku adalah pemain yang butuh dipercaya dan aku merasakan hal itu di Arsenal. Itulah mengapa aku memutuskan pindah." ujar Ozil.

Begitu pentingnya sebuah kepercayaan bagi Si Burung Hantu --  jukukan Ozil – hingga memutuskan terbang ke London. Tanpa sebuah kepercayaan dari semua elemen tim (manajemen, pelatih, rekan sesama pemain dan fans) sulit baginya menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Ozil adalah pesepakbola muda yang secara kualitas telah matang melebihi usianya. Ia adalah produk dari sebuah kepercayaan. Siapa yang tidak ingat momen Piala Dunia (PD) 2010 di Afrika Selatan lalu. Saat itu nama Ozil belumlah dikenal publik sepakbola, namun mantan pemain Werder Bremen itu sudah digadang-gadang sebagai salah satu pemain muda terbaik Jerman.

Tapi bukan mudah baginya menjadi pemain utama di tim bertabur bintang asuhan Joachim Loew itu. Cederanya Michael Ballack menjelang turnamen menjadi “berkah” baginya. Joachim Loew pun memberikan kepercayaan penuh bagi Ozil menjadi pengatur serangan Der Panzer sepanjang turnamen. Bak gayung bersambut, Ozil membayar kepercayaan Sang Pelatih dengan menampilkan performa apik, assist-assist -nya membantu tim Jerman melangkah hingga final.

Selepas hajatan PD 2010 Ozil menjadi pemain paling diincar klub-klub top Eropa. Namun Real Madrid lah yang menjadi pelabuhan Ozil. Siapa sangka Ozil akan mampu menjadi pemain utama skuad penuh bintang berjuluk  Los Galacticos tersebut.Jawabannya lagi-lagi adalah kepercayaan!
Membuat 47 assist selama tiga musim berada di Santiago Barnabeu, jumlah yang cuma bisa disamai oleh Lionel Messi. Jose Maurinho, pelatih yang membawa Ozil ke Madrid pun terang-terangan mengakui dirinya sebagai fans Ozil dan tak ada yang perlu diragukan dari kualitas pria Jerman tersebut. "Dia adalah unik tidak ada salinan dari dirinya -... Bahkan yang buruk Dia adalah yang terbaik No 10 di dunia, Semua orang mencintai dia dan saya melihat Ozil mempunyai kemiripan dengan Luis Figo dan Zinedine Zidane dalam dirinya," ujar Mourinho.

***
Sejatinya kepercayaan adalah sesuatu yang sukar didapat, perlu waktu untuk membuktikan bahwa kita layak dipercaya sepenuhnya (terpercaya). Proses membuat orang lain yakin dan percaya itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada kalanya kepercayaaan yang sudah didapat luntur begitu saja karena sebuah kesalahan fatal.

Bila kita kaitkan dengan sepakbola, rasa percaya itu mutlak harus didapatkan seorang pemain. Tanpa kepercayaan, sulit untuk seorang pemain menikmati permainannya. Parahnya lagi pemain yang notabene kurang dipercaya akan kehilangan percaya diri, kemampuannya  tidak keluar secara maksimal. Frustasi di bench, tak betah dan akhirnya pindah.

Pelatih secara teknis adalah orang yang paling bertanggungjawab menentukan pemain mana yang layak mengisi skuad utama. Beda pelatih tentu beda juga strategi, beda filosofi bermain dan beda sudut pandang dalam menilai kemampuan seorang pemain. Semua pemain selayaknya menghormati itu.

Madrid-nya Mou dan Madrid-nya Don Carlo sudah barang tentu berbeda. Era Mourinho, Ozil adalah sosok No. 10 yang seakan tak tergantikan, tapi Ancelotti lebih sreg dengan talenta yang baru didatagkan Madrid, Isco.

Semua pemain wajib menunjukkan permainan terbaiknya dalam setiap kesempatan. Sudah hukumnya selalu ada persaingan antar pemain dan itu positif bagi tim.

Tapi pelatih tetaplah seorang manusia biasa, ada kadar emosional berbeda antara pemain yang satu dengan pemain lainnya. Muncul istilah “anak emas”, hal ini terkadang memunculkan kecemburuan yang mendekatkan tim dengan kehancuran.

Tapi kepercayaan bukan hanya datang dari faktor seorang pelatih, Masih ingat kasus yang menimpa penyerang Jerman, Mario Gomez yang mendapat cemoohan dari fans Jerman sendiri pada laga persahabatan melawan Paraguay Agustus lalu.

Para fans Der Panzer belum bisa melupakan “aib” Gomez  pada Euro 2008 silam, Jerman hanya menang 1-0 pada laga penyisihan grup melawan Austria, padahal penyerang berdarah Spanyol ini mempunyai banyak peluang bersih untuk menambah gol. Bak kata pepatah, “karena nila setitik, rusak susu belanga”. Momen lima tahun silam itu menjadi sejarah kelam bagi pemain Fiorentina tersebut.

Kepercayaaan dari semua elemen tim adalah hal terpenting bagi perkembangan seorang pemain. Bila kepercayaan itu tak didapat, salah satu jalannya adalah mencari kepercayaan di tempat lain. Tapi bila kepercayaan itu telah di dapat maka jagalah Ia, jangan sekali-sekali sebarkan “nila”.

=====

Oleh: Rizki Zulfitri
Twitter: @RizkiZulfitri

Tidak ada komentar on "Ozil dan Pentingnya Sebuah Kepercayaan"

Leave a Reply