Sudut Lewoleba (Secuil Cerita dan Rekaman Lensa)

Konon tahun 2011 lalu bintang film era 80-an yang kini terjun ke dunia politik, Rano Karno mengunjungi kota Lewoleba guna menjadi salah satu juru kampanye (jurkam) pemenangan pasangan Eliaser Yentji Sunur-Viktor Mado Watun sebagai Cabup dan Cawabup dalam Pilkada Kabupaten Lembata periode 2011-2016. 

Sesampainya di kota yang menjadi pusat pemerintahan kabupaten Lembata provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut, Rano Karno bersama rombongan melakukan konvoi mengitari kota Lewoleba yang disambut gemuruh warga Lewoleba. Setelah lama berkonvoi Rano Karno pun dengan polos bertanya pada rombongan "kotanya di mana ya?"

Pertanyaan yang sangat menggelitik sekaligus memerahkan telinga, "Si Doel" tidak sadar apa yang Ia lewati selama berkonvoi ria merupakan jalanan kota Lewoleba. Apa yang ada di dalam pikiran Rano Karno kurang lebih sama dengan apa yang penulis pikirkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Lewoleba. Ya, Lewoleba masih belum lah layak disebut dengan sebutan "kota", Lewoleba masih tertinggal dibandingkan kota-kota pusat pemerintahan kabupaten lainnya khususnya di barat Indonesia.


Jalanan utama Trans Lembata penuh lubang mengundang bahaya, di saat musim hujan akan banyak kubangan lumpur dan sebaliknya di saat musim kemarau debu akan berterbangan mengganggu pandangan pengguna jalan. Di halaman gedung perkantoran tempat pelayanan publik anda akan disuguhi pemandangan rumput-rumput liar layaknya semak belukar di dalam hutan, antara pembiaran atau memang tak punya cukup biaya.

Tata ruang kota yang masih tidak beraturan sangat mengganggu mata yang melihatnya karena masih banyak berdirinya ruko dan bangunan kumuh di pusat kota. Pertanyaannya di pusat pemerintahan saja keadaannya sangat memperihatinkan apalagi di kecamatan-kecamatan lain yang jauh dari pusat kota? bila anda bertanya kepada penduduk setempat maka anda mendapat jawaban seperti berikut "beginilah Lewoleba!"

Tak adil rasanya menceritakan kekurangan tapi tidak turut memperlihatkan kelebihan yang ada di Lewoleba. Sebagai pintu masuk Kabupaten Lembata (kabupaten Lembata secara geografis berbentuk pulau yang dikelilngi laut), kota yang berada di kecamatan Nagawutung tersebut merupakan kota tersibuk di mana menjadi tempat perputaran uang terbesar terjadi setiap harinya. Tempat di mana puluhan ribu orang mengais rejeki dan menggantungkan hidup.

Lewoleba Bisa di katakan  miniaturnya Indonesia, tempat berkumpulnya beragam suku dan Agama di Indonesia ada di Lewoleba. Mulai dari suku asli Lembata seperti suku Kedang dan suku Lamaholot hingga suku-suku pendatang seperti Bugis, Jawa, Minongko, Padang, Batak dan tentunya Aceh (suku penulis). sedangkan agama sendiri masyarakat Lewoleba bermayoritaskan agama Katolik, lalu berturut-turut diikuti Islam, Protestan dan Hindu.

Satu hal yang patut dibanggakan dari Lewoleba dan Lembata pada umumnya adalah masyarakatnya yang hidup rukun saling berdampingan antar etnis dan umat beragama, tidak pernah terdengar terjadinya konflik dan gesekan-gesekan baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Pelajaran hidup bertoleransi antar umat beragama bukan hanya anda dapatkan di buku-buku pelajaran PKN (dulu PMP), di sini aanda akan merasakannya langsung.

Lewoleba juga terkenal dengan sikap ramah-tamah masyarakatnya, senyum dan sapaan khas orang timur akan menemani anda. Sesuatu yang patut dicontoh oleh daerah lain di Indonesia yang katanya terkenal dengan budaya ketimurannya.

Lewoleba dalam Lensa

Penulis mencoba berbagi lewat rekaman lensa tempat-tempat penting di kota Lewoleba sebagai gambaran kota Lewoleba. Selamat menikmati!

Kantor Bupati Kabupaten Lembata
Gereja Katolik di pusat kota Lewoleba
Masjid Agung Lembata, Rayuan Kelapa-Lewoleba
Lapangan Sepakbola Polres Lembata
Rumah Jabatan Bupati Lembata
Pasar Inpres Lewoleba
Taman Kota di Pusat Kota Lewoleba


***

Rizki Zulfitri, S.Pd
Peserta SM-3T Aceh penempatan Kabupaten Lembata, NTT

Pin BB: 2941F24

Tidak ada komentar on "Sudut Lewoleba (Secuil Cerita dan Rekaman Lensa)"

Leave a Reply